tugas Argument AdeFathur
Teks Argumentasi Tentang Musik Marching Band
Dr. Marko S Hermawan
Marching band merupakan sebuah organisasi
pertunjukan yang paling populer dan penting di pendidikan music, setidaknya
bagi penduduk Amerika Serikat. Penampilan band dari sekolah-sekolah, dan
marching band universitas sering diartikan sebagai sebuah komunikasi dan
pemaparan kurikulum pendidikan musik. Akibatnya, banyak orang berpendapat
marching band adalah faktor dalam menilai kualitas dan nilai seluruh program musik
dalam sebuah institusi.
Meskipun marching band menjadi kebanggaan
masyarakat dan sekolah, namun di kalangan musisi profesional dan keilmuan,
marching band dipandang sebelah mata. Marching band terkadang disepelekan oleh
pakar pendidikan musik di Amerika, dan banyak pelatih dan band director
marching band kurang mendapat perhatian dari sesama musisi professional lain
seperti konduktor orchestra simfoni dan ensembel lainnya. Walhasil grup-grup
orchestra ini ‘mengeksklusifkan’ diri dengan grup musik marching band.
Sebenarnya apa masalah diantara grup music
professional, seperti orchestra dengan grup music marching band? Dan apakah
marching band merupakan ‘grup musik’ ataukah lebih kepada satuan olahraga?
Garrison (1986) memiliki alasan tersendiri tentang argumentasi sebuah marching
band
Argumen-argumen yang muncul
Di Indonesia, banyak yang mengira bahwa
marching band merupakan sebuah ‘klub olahraga’, dan bukan organisasi musik.
Pengkategorian ini bukan tanpa sebab, mengingat organisasi resmi marching band,
yaitu Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) berada dibawah naungan KONI pusat,
dan mendapatkan posisi sebagai cabang olahraga di Pekan Olahraga Nasional (PON)
sejak 8 tahun terakhir. Keikutsertaan marching band dalam event-event olahraga
membuat kita yakin bahwa marching band merupakan kegiatan keolahragaan
ketimbang seni musik. Dan ternyata… marching band bukan merupakan sebuah
argumentasi antara dua dikotomi olahraga dan music, namun ada sisi lain tentang
fungsi marching band itu sendiri.
Garrison (1986) mengatakan bahwa
sekolah-sekolah di Amerika Serikat mempertahankan marching bandnya untuk
kepentingan komunikasi massa atau public relations. Bahkan tujuan dibentuknya
marching band adalah untuk mempromosikan sekolah, dan bukan untuk mencerminkan
unsur musik itu sendiri. Banyak perguruan tinggi elit di Amerika telah
meninggalkan kegiatan marching band karena dirasa tidak adanya nilai riil dalam
kegiatan ini. Jadi dimanakan unsur musiknya?.
Media artistik?
Dalam bukunya yang berjudul “A New
History of Wind Music”, David Whitwell meneliti hambatan yang dihadapi marching
band dalam upaya untuk mendapatkan estetika dan musikalitas. Whitwell merangkum
beberapa seni dan definisi estetika dengan menawarkan tiga karakteristik
mendasar:
(1) Sebuah musik yang berestetika haruslah
musik yang menyentuh substansinya.
(2) Harus dilakukan dengan sungguh-sungguh
dan penuh perasaan, seperti halnya seorang komposer mengkomunikasikan idenya.
(3) Nilai artistik harus dapat diterima
oleh pendengar.
Argumentasi Whitwell mungkin dapat
dijadikan indikasi bahwa marching band tidak memiliki semua karakteristik
diatas, terutama nomor tiga. Sebuah pertunjukan marching Band terjadi
dalam lingkungan di mana pendengar tidak perlu diam, dapat berdiri, atau bahkan
berjalan-jalan. “Seorang penonton marching band tidak dianggap kasar dan tidak
sopan apabila memfokuskan perhatiannya pada beberapa aktivitas lainnya.” Asumsi
dari argumentasi ini adalah bahwa semua pertunjukkan music harus mempunyai
“perhatian penuh” dari seorang penonton, dan etika menonton pertunjukan musik
harus ditaati oleh penonton. Sehingga dapat dikatakan bahwa marching band BUKAN
sebuah pertunjukan music, yang berakibat, marching band BUKAN music.
Pandangan lainnya berasal dari James R.
Wells yang menawarkan jika Marching band merupakan sebuah “estetika"
karena marching band memadukan unsur harmonisasi pendengaran dan elemen visual,
serta mengikutsertakan karya intelektualitas dan emosional seorang pemusik dan
koreografer.
Komentar
Posting Komentar